Kelenteng Fuk Tet Che – Belinyu

May 11 2009No Commented

Categorized Under: Bangka Belitung, Indonesia

Beberapa daerah di Pulau Bangka memiliki warisan seni budaya dari para leluhurnya masing-masing. Ada beberapa benda warisan seni budaya yang bernilai sejarah tersebut sebagian ditinggalkan tidak terawat, bahkan dirusak oleh generasi yang mewarisinya. Untuk itu diperlukan sikap mental generasi penerus guna mencintai, menyayangi, menghormati dan melestarikan peninggalan bersejarah itu. Peninggalan bersejarah apapun itu bentuknya perlu mendapat perhatian agar tetap lestari, sehingga tetap bisa dinikmati dan dilihat serta diwarisi kepada generasi masa yang akan datang.

Beberapa bangunan bersejarah yang pernah dimiliki kota Belinyu, seperti Benteng Kuto Panji yang dibangun Raja Bong Kap Jun terkesan kurang terawat, bahkan pembangkit tenaga listrik PLTU Mantung yang dibangun pemerintah kolonial Belanda yang konon katanya terbesar di Asia Tenggara sekarang hanya tinggallah cerita dan puing-puing saja. Semua itu terjadi mungkin akibat kurang arifnya generasi penerus memelihara benda-benda peninggalan sejarah dari para leluhurnya.

Walaupun ada yang sudah rusak, tetapi masih ada beberapa lagi aset peninggalan bangunan bersejarah yang masih dimiliki masyarakat Belinyu.

Salah satu bangunan tua yang bernilai sejarah itu adalah Kelenteng Fuk Tet Che atau Kelenteng Belinyu, yang sudah berumur sekitar 104 tahun.

Salah seorang pengurus kelenteng yang sudah bekerja sekitar 30 tahun lebih merawat tempat ibadah ini mengatakan sampai kini kelenteng ini masih ramai dikunjungi orang, baik sebagai tempat ibadah warga Tionghoa maupun tempat bersejarah. Hal ini dikarenakan sebagian besar motif bangunan dan isinya masih asli berasal dari Tiongkok.

Bila diperhatikan dengan seksama salah satu keunikan kelenteng ini terletak pada bagian atapnya berbentuk perahu berisi dua ekor naga. Terdapat beberapa unit ukiran kayu yang terletak di antara bagian atas tiang-tiang penyanggah bangunan kelenteng di pintu masuk, maupun bagian dalam kelenteng.

Di dalam kelenteng terdapat empat buah meja atau altar untuk sembahyang, yaitu:
1. Dewa Bong Kwet Chung Pak Kung
2.?Dewa Kwan Ti / Guan Gong
(?- Simplified )
(?- Traditional )
3. Dewi Kwan Im
4. Budha Maitreya.

Ornamen-ornamen yang menghiasai bagian dalam kelenteng ini, seperti relief dan lukisan asli berasal dari negeri Tiongkok. Setiap relief dan lukisan-lukisan ini mengandung makna atau cerita tentang kehidupan manusia.

Edwardi, “Kelenteng Fuk Tet Che Terbesar dan Tua di Belinyu” – Harian Pagi Bangka Pos – 4 Februari 2001

Popularity: 26% [?]

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

Kelenteng is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache