Kelenteng Kwan Kong – Manado

Kelenteng Po An Thian – Pekalongan
September 3, 2009
Kelenteng Tjoe Tik Kiong – Tulungagung
September 3, 2009

Kelenteng Kwan Kong – Manado

Kelenteng Kwan Kong – Manado
Jl. D.I. Panjaitan 193
Manado – Sulawesi Utara – 95122
Telp. (0431) 869297


( Klenteng Kwan Seng Ta Tie, April 2007 )

Sejarah Berdirinya Klenteng Kwan Kong Manado

Menilik latar sejarah berdirinya Klenteng Kwan Kong Manado, tidak boleh sepotong-sepotong, namun harus dilihat juga aktivitas pendirinya, yakni Soei Swie Ho (Hoce Loho). Saat itu beliau adalah Bio Kong Ban Hing Kiong Manado dan anggota perkumpulan Hap Tan (perkumpulan ini pernah berganti nama Hap Khoa) di Klenteng Ban Hing Kiong Manado. Perkumpulan Hap Tan ini tugas utamanya menghantar Tang Shen / Ki Tong dengan berbagai pelayanan upacara di Klenteng Ban Hing Kiong Manado. Tercatat Ki Tong / Tang Shen di Klenteng Ban Hing Kiong Manado secara turun temurun yakni Oei Hui Pie, Oei Kiem Soen, Oei Beng Tjien (Yakob), Oei Tjung San (Eng), dan sekarang Oei Hok Hing (Andre). Menurut penuturan para sesepuh, hal ini akan berlangsung selama tujuh turunan sesuai sumpah saat itu. Pada Tahun 1955, sesudah merayakan HUT yang pertama, perkumpulan Sam Tan Hwee memutuskan keluar dari Klenteng Ban Hing Kiong dan memisahkan diri dari Perkumpulan Hap Tan. Aktivitas perkumpulan ini mendapat tempat sementara dari Soei Swie Ho yang memiliki tempat sembahyang berupa Kam (Tempat Sembahyang Pribadi) dengan objek pemujaan seperti di Klenteng Ban Hing Kiong, dimana Soei Swie Ho saat itu menyewa rumah milik Tan Bun Co yang letaknya di Lorong Catu (Jl. Panjaitan IV). Soei Swie Ho bersama keluarga tinggal di rumah tersebut sejak tahun 1951 (sebelumnya tinggal di jalan Wenang, belakang Go Sam Su. Sekarang Jl. Walanda Maramis). Tahun 1957 atas tawaran Soei Kim Hong maka perkumpulan ini pindah ke tanah miliknya, dan akhirnya diadakan pembangunan Klenteng Lo Tjia Kiong.

Pada tahun 1959, Soei Swie Ho berencana kembali kedaratan Tiongkok, akibat keluarnya Peraturan Presiden No. 10 tahun 1959 tanggal 16 November 1959. Peraturan ini sebenarnya tentang larangan bagi usaha perdagangan kecil dan eceran yang bersifat asing diluar ibukota daerah swatantra tingkat I & II serta keresidenan. Namun dalam prakteknya, PP No. 10/1959 ini sasarannya hanya ditujukan kepada Keturunan Tionghoa. Apalagi kemudian terbit Peraturan Pemerintah No. 20/1959 yaitu tentang Peraturan Pelaksanaan perjanjian Dwi Kewarganegaraan dengan RRT, yang diterapkan berlaku mulai 20 Januari 1960. Saat itulah terjadi tindakan “pengusiran” terhadap etnis Tionghoa dari daerah Kecamatan dan Desa dengan dalih pelaksanaan PP No. 10/1959. Dalam situasi demikian, pemerintah RRT mengirimkan kapal penumpang ke Indonesia dengan tujuan “membantu Huakiauw” kembali ke Tiongkok. Namun baru 4 (empat) trip (? 40.000 jiwa) yang terangkut, sisanya ? 100.000 KK tidak sempat terangkut.

Akhirnya Soei Swie Ho tidak jadi berangkat ke Tiongkok dan sempat berpindah tempat tinggal di Tikala sekitar tahun 1966-1967. Tahun 1967, Soei Swie Ho telah minta ijin kepada Dr. Sie Tjoan Po yang saat itu menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Tjeng Lian Hwee untuk menjaga lapangan tennis dan tinggal dilokasi tersebut. Pada tanggal 23 Desember 1967 Dr. Sie Tjoan Po memberikan surat yang ditujukan kepada Soei Swie Ho dimana isinya memberikan keluasan untuk mendirikan bangunan. Diterangkan pula bahwa tanah tersebut terletak di Jalan Asia Afrika, berdasarkan Hak Eigendom Vereninging No. 120. Di lokasi ini kemudian dibangun rumah sederhana dan mendirikan tempat sembahyang pribadi yang beratap rumbia (istilah Manado = Pitate) dan lantai tanah. Kemudian semua arca yang ada dibawa kembali ke tempatnya yang baru. Dari sinilah cikal bakal berdirinya lokasi Klenteng Kwan Kong Manado.

Ketika bangunan ini berdiri, tepat disebelahnya berbatasan dengan lapangan tennis (sekarang telah berdiri sekolah Tri Dharma) adalah Klenteng Lo Cia. Suatu saat terjadi peristiwa penting yakni ketika salah satu Ki Tong / Tang Shen Klenteng Lo Cia yakni Oei Kim Tong tengah melaksanakan tugas dari Roh Suci, sempat turun ke lokasi tempat sembahyang pribadi Soei Swie Ho, dan memberi petunjuk agar tempat tersebut dijadikan Klenteng dengan nama Klenteng Kwan Kong, dalam artian arca Kwan Kong sebagai tuan rumah. Menurut penuturan keluarga, Soei Swie Ho juga sempat bermimpi dan mendapat petunjuk dari Yang Suci Ma Co (Thian Siang Seng Bo) agar tempat sembahyang pribadi ini kelak dinamakan Klenteng Kwan Kong Manado, untuk mendapat ketenangan. Dengan alasan-alasan inilah makanya tempat sembahyang pribadi milik Soei Swie Ho yang sangat sederhana tersebut kemudian dijadikan tempat Ibadat umum yakni Klenteng Kwan Kong Manado.

Klenteng Kwan Kong Manado saat itu sifatnya masih milik keluarga, peranan yang sangat besar dari Tjan Kiem Hoa, Istri Soei Swie Ho yang senantiasa mendukung seluruh aktifitas Klenteng dan berbagai kebutuhan anggota, dengan segala keberadaan dan keterbatasannya. Hal ini membuat Tjan Kiem Hoa begitu dicintai para anak murid dan menganggap seperti orangtua sendiri. Pada tanggal 31 Maret 1983, Tjan Kiem Hoa meninggal dunia, peristiwa ini membuat banyak anak murid dan anggota terlebih keluarga merasa sangat kehilangan. Anak-anak dari Soei Swie Ho dan Tjan Kiem Hoa, berturut-turut adalah Soei Tjien Sian (Hengky Loho), Soei Ie Tjong (Ronny Loho), Soei Tjien Liong (Johny Loho), Soei Bouw Pek (Eddy Loho), Soei Tho Hoa (Elsye Loho), Soei Tho Lien (Ellen Loho), Soei Giok Hian (Vonny Loho), Soei Lien Tho (Tommy Loho), Soei Po Kiau (Hanny Loho), Soei Giok Hie (Selvi loho). Seluruh keluarga ini sangat membantu dalam berbagai aktivitas Klenteng Kwan Kong Manado.

Pada tahun 1971 terbentuk Seksi Hu Huat di Klenteng Kwan Kong Manado, dengan Suhu / Gurunya Ang Sui Keng, dan menjadi Ceng It di Klenteng tersebut, sekaligus juga Soei Swie Ho sebagai Suhu / Guru bersama di Klenteng Kwan Kong.

Pada tanggal 21 November 1994, Soei Swie Ho Pendiri sekaligus Guru dan Sesepuh Klenteng Kwan Kong meninggal dunia dalam usia 71 tahun (Soei Swie Ho lahir tanggal 16 Juni 1923, istri Almh. Tjan Kiem Hoa) Seluruh keluarga, anak murid, Badan Pengurus, Pemuda-I, anggota bahkan simpatisan begitu kehilangan atas kepergian Beliau. Soei Swie Ho dalam masa hidupnya senantiasa memesan kepada anak murid dan anggota, agar menjalankan sifat-sifat Yang Suci Kwan Kong yang dijabarkannya, yakni : “Kejujuran, Kesetiaan, Keberanian, Kebijaksanaan, dan Kebenaran” dan untuk menjalankannya maka setiap anak murid bersama-sama “bersetia, belajar dan bergiat”. Pada tanggal 19 Juni 1999 Ang Soei Keng meninggal dunia dalam usia 79 tahun, dengan pesan terakhir : “Belajar Sam Khauw, Bantu Thian jalankan Tao”. Sebelumnya Ceng It yang lain yakni Tjoa Un Tjae meninggal pada tanggal 9 September 1975 dalam usia 65 tahun, dan Kwan Giok Su meninggal pada tanggal 6 Juni 1984 dalam usia 61 tahun. Demikian riwayat hidup pada Suhu / Sesepuh dan Ceng It yang turut mewarnai perjalanan panjang sejarah Klenteng Kwan Kong Manado juga Klenteng lainnya. Sepeninggal Soei Swie Ho, Badan Pengurus bersama anak-anak Almarhum telah menyepakati suatu keputusan bersama untuk tetap melanjutkan keberadaan Klenteng Kwan Kong, hal mana telah diadakan pertemuan berupa musyawarah Badan Pengurus dengan seluruh keluarga pada tanggal 4 Maret 1995. Pertemuan tersebut telah melahirkan konsep kerangka dasar bagi pengembangan Klenteng.

Untuk pengembangan Klenteng Kwan Kong maka dimulailah perencanaan pembangunan, dimana pembangunan ini menjadi tanggung jawab Yayasan Setia Jujur Manado. Tanggal 27 Maret 1997 keluar Surat Ijin untuk pembangunan kembali Klenteng Kwan Kong dengan Ijin Dispensasi Departemen Agama No. MR. 5/1-C/BA 00/548/1997 tertanggal 20 Maret 1997.

Pada hari Senin tanggal 25 November 1996 diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan Klenteng. Kemudian kegiatan pembangunan fisik dimulai sejak tanggal 30 Maret 1997 dan saat tersebut 11 buah Arca dari pada Sien Beng diperkenankan ditempatkan untuk sementara waktu pada 11 keluarga anggota T.I.TD Kwan Seng Ta Tie (Kwan Kong) Manado. Pembangunan fisik pada bangunan depan dinamakan pembangunan Tahap Pertama, dengan pengawas lapangan Hanny Widjaja dan digunakan untuk pertama kalinya dalam Sembahyang Permohonan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, tanggal 9 bulan 1 tahun 2549 Imlek (tahun 1998).

Mengenai status tanah Klenteng Kwan Kong Manado, pada tanggal 29 Pebruari 2000 terbit Surat Keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kotamadya Manado No. 04-530.1-18.1-2000, yang merupakan dasar pendaftaran. Pada tanggal 4 Maret 2000 keluar Sertifikat Hak Pakai No. 63 Kelurahan Calaca dengan luas tanah 408 M2 berdasarkan surat ukur No. 960/Calaca/1996 tanggal 29 Maret 1996, atas nama Yayasan Setia Jujur. Kemudian karena ada perluasan tanah, keluar sertifikat HGB No. 101 pada tanggal 3 November 2003 dengan luas tanah 746 M2 berdasarkan surat ukur No. 37/Calaca/2003, atas nama Yayasan Setia Jujur.

Selanjutnya direncanakan pembangunan Tahap Kedua bagian belakang Klenteng Kwan Kong Manado dan untuk itu diadakan upacara peletakan batu pertama pada hari Jumat, tanggal 10 Maret 2000.

Pada tanggal 11 September 2003 (8 Peh Gwee 2554 Imlek), tepat saat peringatan Hari Lahir Hok Tek Cing Sien, halaman depan Klenteng telah selesai dibongkar dan terlihat dari jalan raya hingga terlihat lebih luas dan megah. Pada tanggal 17 September 2003 diadakan upacara sembahyang pemindahan Arca besar untuk sementara waktu dan dititipkan di Kairagi, tempat usaha milik dr. Angelina Binui. Untuk Arca-arca yang lain dititipkan kepada masing-masing umat sebanyak 11 tempat.

Pada hari Senin tanggal 17 November 2003 mulai diadakan pembongkaran bangunan lama bagian belakang dan renovasi bangunan Klenteng tahap kedua mulai berjalan yang meliputi bangunan tiga lantai bagian belakang ditambah beberapa fasilitas seperti Aula, Dapur, kamar mandi, WC dan sebagainya. Ditetapkan pimpinan Proyek Corneles Iwan Kasenda (Liem Kok In) dan pelaksana lapangan Hanny Rumengan (Ong Sie Tjen). Tanggal 11 Januari 2004 mulai dibangun fondasi bangunan. Selesai upacara Cap Go Meh 2004 pembangunan dilanjutkan kembali dan berjalan dengan baik. Pada tanggal 24 Maret 2005 (15 Ji Gwee 2556 Imlek), bertepatan dengan upacara Sembahyang memperingati peringatan kelahiran Nabi Lao Tze dan HUT Pemuda-I diadakan upacara syukuran selesainya pembangunan Klenteng Tahap Kedua, pada bagian belakang dengan tiga lantai. Luas bangunan Klenteng ? 600 M2, 3 lantai diatas tanah seluas 1.154 M2. Pada hari ini semua Arca yang dititipkan kepada umat, dikembalikan lagi ke Klenteng Kwan Kong Manado.

Pada tanggal 11 April 2005 (3 Sha Gwee 2556 Imlek), saat upacara sembahyang memperingati Shejit Hian Thian Siang Tee, Gapura depan Klenteng mulai dibangun dengan tahap awal penggalian fondasi, demikian pula pembuatan relief-relief pada dinding halaman Klenteng yang menggambarkan sejarah perjalanan Yang Suci Kwan Kong. Direncanakan sebelum peringatan Shejit Kwan Seng Ta Tie (Kwan Kong) dan saat peresmian selesai pembangunan Klenteng pada tanggal 29 Juli 2005, semua pelaksanaan pembangunan gapura dan relief-relief tersebut telah selesai.

Alamat kelenteng oleh: Iswandi Santoso – Februari 2003. Revisi: Klenteng Kwan Seng Ta Tie – April 2007
Artikel oleh: Victor – April 2007, pengelola website Kelenteng Kwan Kong Manado -?http://www.geocities.com/klentengkwankong/

7 Comments

  1. hery says:

    boleh tanya gak, klo mau ikut join ke pemuda kelenteng ini gimana ya?
    thx atas infonya

  2. charles tan says:

    apakah klenteng Lo Cia bio jkt ada hub dg klenteng Lo Cia manado at klenteng Kwan Kong Manado? kalau bisa diulas at diinformasikan untuk menambah referensi,

    • benny says:

      sebenarnya klenteng kwankong manado ga ada hubungan dengan klenteng lotjia bio jkt…hanya kebetulan pengurus dan cengit klenteng lotjia bio jkt adalah sodara2 dari pengurus klenteng kwankong manado…maka dari itu hubungan terasa dekat satu sama lainnya dan memang klenteng lotjia bio jkt cikalbakal dari klenteng lotjia manado..karena itu banyak pengurus2nya adalh orang manado sendiri…trimakasih

  3. mardi says:

    bisa langsung hubungin sama ketua pemuda atau pengurus klenteng kok..
    atau setiap sembahyang, datang saja :)

  4. Tulus S says:

    Ketika tugas di Manado, selama dua tahun kurang, qta selalu sembahyang di klenteng Kwan Kong Manado, dua minggu sekali setiap tanggal 1 dan 15 Imlek. Suasana sangat tentram, damai dan menerbitkan rasa percaya diri dan keinginan bersikap jujur dalam setiap pekerjaan. Alhamdulillah membuahkan hasil yang baik. Para pengurus Klenteng ini sungguh ramah dan suka menolong, terimakasih.

  5. Me says:

    Harusnya pengurusnya terutama muda/i nya kalau ada keinginan membangun citra kelenteng di dunia maya, agar lebih “mendunia” buatlah sebuah website khusus untuk kelentengnya, yang di update setiap ada acara sembahyang/aktifitas dalam kelentengnya.

    Geocities yg diatas itu tidak menjamin kelangsungan lho. Setiap saat bisa dibekukan oleh yahoo nya.

    TQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *