Kelenteng Liong Hok Bio – Magelang

Kelenteng Poo An Bio – Lasem
September 3, 2009
Kelenteng Gie Yong Bio – Lasem
September 3, 2009

Kelenteng Liong Hok Bio – Magelang

Kelenteng Liong Hok Bio didirikan pada tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie (Tjok Lok). Untuk mentjeritakan lebih djauh perlu diketahui lebih dulu riwajat Twa Pek Kongnja jang mengambil peranan penting.

Oleh karena riwajat tersebut tidak pernah ditulis dimanapun, maka kita hanja ambil sumber dari pitutur dari kita punja keluarga jang tertua.

Sebagaimana telah diketahui bahwa dalam tahun 1740, orang-orang Tionghoa di Djakarta (dahulu Batavia) dibawah pemerintah G.G. Valkenier telah dibunuh dan dirampok setjara besar-besaran) jang mana sisanja lantas bubar terpentjar dibanjak tempat. Sesudahnja menderita dan terlunta-lunta dalam mereka punja perdjalanan; bermula dengan prau sampai ke Semarang, kemudian menudju ke Mataram untuk dapat perlindungan dari Sri Sunan, tetapi usahanja tidak terlaksana.

Satu rombongan ketjil telah sampai di Kedu Selatan dan bertempat di desa Klangkong Djono, sebelah selatan dari Kutoardjo jang itu waktu disebut Semarang.

Pada waktu itu, agama2 masih belum disiarkan dan dipropagandakan seperti sekarang, hingga orang-orang Tionghoa masih taat betul dengan agamanja sendiri. terutama mengenai pemujaan Twa Pek Kong, maka waktu mereka mengungsi, tak lupa Twa Pek Kongnja djuga dibawa begitupun dengan Sdr2 kita jang mengungsi di desa Djono. Twa Pek Kongnja jang dibawa ialah Hok Tek Tjeng Sin (Tho Tee Kung).

Demikianlah sampai beberapa puluh tahun mereka tinggal di itu desa dengan tentram dan mengusahakan berbagi-bagi pentjarian, antaranja membikin trasi, tenunan, perdagangan ketjil dsb-nja. hingga sampai pada tahun l825 di Djawa Tengah ada terbit peperangan lagi. Pengeran Diponegoro melawan Belanda, beberapa tahun kemudian peperangan telah mendjalar sampai Kedu Selatan, sebagamana keadaan sekarang banjak orang asing jang tinggal terpencil mendapat gangguan2 sepertii peggarongan dan keniajaan, hingga tak dapat hidup dengan tenteram, begitupun dengan penduduk Tionghoa di Djono tidak terketjuali.

Tetap berkat dari pemimpinnja jang tabah, jang terkenal dengan nama Kjai Singkir (mananja sedjati The Ing Sing jag telah dapat gelaran Bu Han Lim dari Tiongkok); mereka untuk sementara dapat bertahan didesanja tetapi lambat laun keadaan semakin buruk hingga terpaksa mereka musti meninggalkan desanja jang terkepung oleh pengatjau-pengatjau itu.

Pemimpin mereka Kjai Singkir berusaha untuk mendjumpai kepala pengatjau, jaitu seorang jang Kesohor amat berani dan mempunjai ilmu weduk (Ho pwee bak) tak mempan sendjata. Lebih dahulu Kjai Singkir telah pesan pada teman2nja, bila mpunja rundingan pada Kepala pengatjau tidak berhasil, serta ia tak dapat kembali pula, maka supaja mereka kumpulkan kaum wanita dan anak2 mereka di suatu rumah untuk kemudian dibakar habis, karena mereka lebih suka mati dari pada diganggu kehormatannja oleh pengatjau2.

Kjai Singkir telah berhasil dapat berdjumpah dengan Kepala pengatjau dan ia ada usul, supaja kaum pengatjau djangan berlaku pengetjut dengan djalan mengerojok,- tetapi apabila ia ada satu laki-laki agar berai bertanding satu lawan satu, dengan disaksiken oleh banjak orang. Usul itu telah diterima dengan gembira oleh kepala pengatjau jang mengandalkan kegagahan dan kekuatannja dan memandang rendah terhadap lawannja, maka dengan bangga ia menantang kalau Kjai Singkir bisa menang dalam perkelaian padanja rombongannja boleh berlalu dengan tanpa gangguan.

Tidak lawa kemudian pertandingan telah dilakukan antara Kjai Singkir dengan Kepala Pengatjau, didalam perkelaian jang sangat hebat itu, achirnja Kjai ingkir dapat mendjatuhkan musuhnja. Melihat kepalanja telah djatuh kaum pengatjau djadi keder dan mengundurkan diri; ketika jang baik ini digunakan oleh Kjai Singkir dengan kawan2nja untuk meninggalkan desa Djono dengan membawa Twa Pek. Kongnja terus lari kedjurusan Magelang, jang ini waktu ada lebih aman karena banjak tentaranja.

Dengan singkat ditjeritakan bahwa rombongan Kjai Singkir telah tiba di Magelang, sesudahnja melalui Benteng Menoreh (Salaman). Sesampainja di Magelang rombongan dibagi djadi dua, karena Twa Pek Kongnja ada dua; jang satu dibawah oleh rombongan pertama ke Parakan, jang di Magelang Twa Pek Kongnja ditempatkan dikampung Ngarakan.

Pada tahun 1830 peperangan telah berachir; beberapa tahun kemudian telah pindah ke Magelang seorang Tionghoa ternama Be Tjok Lok dari Solo jang sudah banjak berdjasa selama waktu perang: lalu diangkat mendjadi Luitenant oleh Pemerintah Belanda dan di pindahkan ke Magelang, didjadikan pachter tjandu dan rumah-gade hingga ia djadi hartawan besar.

Belakangan ia punjaa pangkat dinaikan mendjadi Kapitein, lantaran mana ia berkaul untuk hadiahkan sebidang tanahnja jang terletak diudjung utara untuk didirikan Kelenteng jang dinamakan Liong Hok Bio dan Twa Pek Kong jang di Kampung Ngarakan dipindahkan kesitu.

Ini kedjadian ada diantara pertengahan tahun 1864. Pada masa itu orang-orang Tionghoa masih sudjut betul pada tradisi Tionghoa, saban ada pernikahan hampir semua pergi sembahjang ke Kelenteng begitupun pada hari sembahjang rebutan (Tiong Gwan) selalu dibikin upatjara besar2an, di Kelenteng diadakan sembahjang besar pakai Thay Soe, Po Tay Hie dsb, serta di alon-alon diadakan sembahjang perebutan besar dengan pakai panggung dua tingkatan, pakai Gunungan besar dan ketjil, tumpeng nasi, beras, kambing dan babi bulat, kambing hidup dan lain2 lagi; dipuntjak dari Gunungan jang tertinggi teruk di selendang Pelangi dan banjak barang-barang lain untuk kemudian diperebutkan, begitupun disekitar panggung perebutan itu diadakan matjam-matjam tontonan hingga mirip seperti Pasar Malam.

Sudah tentu upatjara dengan sembahjang rebutan begitu menelan biaja besar sekali hingga bilang ribu rupiah, akan tetapi orang-orang dahulu semangatnja ada djauh lebih baik dari orang sekarang. Jang dipilih djadi Lotju berani keluar 500 sampai 1000 rupiah, jang dipilih djadi thaoke sedikitnja musti keluar 200 rupiah, sedangkan jang lain sedikitnja 25 rupiah. Tjukuplah untuk menutup ongkos2 bahkan uang urunan sering ada kelebihan dan dapat dikumpulkan, hingga dapat dibelikan tiga petak rumah dengan Percil Eigendom terletak di Djl. Pemuda Selatan No. 53/55, 57 dan 59, jang itu waktu ada diurus oleh Kong Kwan hingga sampai tahun 1906 Tiong Hwa Hwee Kwan didirikan dan urusan diserahlan pada pengurus T.H.H.K.

Lantaran sering terdjadi ketjilakaan2 waktu diadakan sembahjang rebutan maka pada tahun 1904 oleh Pemerintah dilarang dan tidak diperbolehkan lagi.

Biokong pertama jang mendjabat ialah Soe Tiauw Hok sehingga l.k. 30 tahun lamanja, kemudian lantas diganti oleh Sie Kim Liang, Liem Tiong See, Oei Djit Djing. Djwa Kie dan The Djioe Lam jang hingga sekarang masih mendjabat.

Sekeanlah sedikit riwajat Kelenteng Liong Hok Bio Magelang jang sedari didirikan dari tahun 1864 hingga kini tahun 1961 sudah berusia 97 tahun.

(Menurut tulisan mendiang Sdr. Liem Tjay An).
Tri Budaya no 96/97, Jan. Feb. 1962
Pengirim artikel: F. B. Yuwono – 2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *