Kelenteng Wan Ji Sie – Jl. Lautze, Jakarta

Kelenteng Jin De Yuan – Petak Sembilan, Jakarta
May 11, 2009
Kelenteng Sam Po Kong – Semarang
May 12, 2009

Kelenteng Wan Ji Sie – Jl. Lautze, Jakarta

Sejarah Kelenteng Sentiong (Kelenteng Kuburan Batu) atau Kelenteng Wan Jie Si, sama sekali berbeda. Kelenteng ini terletak di Jl. Lautze no.38 – Jakarta ini memiliki sejarah yang unik.

Pada tahun 1736 Frederik Julius Coyett, seorang anggota Dewan Hindia, mendirikan sebuah rumah peristirahatan dalam taman luas diluar Kota. Rumah ini dibangun disisi barat?“Jalan raya ke selatan”?yang kini disebut Jalan Gunung Sahari. Ia memasang beberapa patung pada tembok rumah barunya, dan tempat lain dalam kebunnya yang luas. Patung-patung ini akan memainkan peranan penting dalam sejarah masa depan rumah ini.

Pada hari terakhir hidupnya (1736) Coyett yang tidak mempunyai anak menikah dengan G.M. Goossens, Wanita cantik dan kaya. Dia adalah janda M. Westpalm, yang batu nisannya dapat dilihat di Taman Prasasti. Tahun berikutnya Ny. Goossens menikah lagi dengan Johannes Thedens, Gubernur Jendral batavia 1740-1743. Ny. Goossens menjual rumah dan kebun yang diwarisi Coyett itu beberapa tahun sebelum meninggal. Rumah besar itu berganti-ganti pemilik lagi sampai diperoleh oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel (1761).

Pemilik rumah berikutnya Simon Josephe membeli rumah Sentiong sebagai obyek spekulasi semata. ia menjualnya dengan harga mahal kepada Kapten Tionghoa Lim Tjipko. Dalam?“Kronik Sejarah Tionghoa”?di batavia dicatat:

Pada tahun 1760 kapten kaum Tionghoa bersidang bersama letnan-letnannya guna memperoleh pekuburan baru. Mereka meminta semua warga memberi sumbangan untuk mendapatkan ‘taman gubernur’ di Golong Sari (Gunung Sahari), dimana terdapat kelenteng dengan banyak patung dari batu, yang dahulu dibuat oleh orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa bergembira, bahwa mereka dapat membeli tanah ini …

Pada tahun 1888 rumah ini menjadi milik resmi Gong guan atau?“Dewan orang-orang Tionghoa”. Dua segi khas kelenteng ini perlu diperhatikan. Kelenteng ini semula dibangun sebagai rumah peristirahatan Belanda, dan kini Dewa-Dewa disembah didalamnya.

Karena rumah peristirahatan Belanda ini menjadi kelenteng pada akhir abad ke-18, maka tiada lagi barang-barang antik, selain patung-patung tersebut yang mungkin berasal dari abad ke-8 atau ke-10.

Oleh: Robby Sidharta – April 2001

2 Comments

  1. rubayyi astari says:

    salam,, saya mau meliput kelenteng ini ada contact personnya gak yaahh ??? thanks :)

  2. budi darmawan tjandra says:

    siank all…..mau nanya ya..di kelenteng wan ji sie ini ada dewa Lung De Xing Jun gk ya…mksh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *