Da Bo Gong (

)
Meskipun seusia dengan Kelenteng Jin De Yuan di Glodok, Kelenteng Da Bo Gong (Kelenteng Ancol) mempunyai latar belakang yang berbeda. Kelenteng ini dalam bahasa Tionghoa disebut Da Bo Gong Miao atau Kelenteng Da Bo Gong. Dari Da Bo Gong atau Toa Pe Kong (lafal Hokkien) muncul istilah bahasa Indonesia untuk patung-patung dewa Tionghoa, yaitu?‘topekong’.
Popularity: 89% [?]
Kelenteng Sam Po Kong – Semarang

Sam Po Kong – Semarang (Setyono Budhy Santosa, 2001)
Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok bernama Zheng He / Cheng Ho (
) atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang.
Popularity: 46% [?]
Sejarah Kelenteng Sentiong (Kelenteng Kuburan Batu) atau Kelenteng Wan Jie Si, sama sekali berbeda. Kelenteng ini terletak di Jl. Lautze no.38 – Jakarta ini memiliki sejarah yang unik.

Pada tahun 1736 Frederik Julius Coyett, seorang anggota Dewan Hindia, mendirikan sebuah rumah peristirahatan dalam taman luas diluar Kota. Rumah ini dibangun disisi barat?“Jalan raya ke selatan”?yang kini disebut Jalan Gunung Sahari. Ia memasang beberapa patung pada tembok rumah barunya, dan tempat lain dalam kebunnya yang luas. Patung-patung ini akan memainkan peranan penting dalam sejarah masa depan rumah ini.
Pada hari terakhir hidupnya (1736) Coyett yang tidak mempunyai anak menikah dengan G.M. Goossens, Wanita cantik dan kaya. Dia adalah janda M. Westpalm, yang batu nisannya dapat dilihat di Taman Prasasti. Tahun berikutnya Ny. Goossens menikah lagi dengan Johannes Thedens, Gubernur Jendral batavia 1740-1743. Ny. Goossens menjual rumah dan kebun yang diwarisi Coyett itu beberapa tahun sebelum meninggal. Rumah besar itu berganti-ganti pemilik lagi sampai diperoleh oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel (1761).
Pemilik rumah berikutnya Simon Josephe membeli rumah Sentiong sebagai obyek spekulasi semata. ia menjualnya dengan harga mahal kepada Kapten Tionghoa Lim Tjipko. Dalam?“Kronik Sejarah Tionghoa”?di batavia dicatat:

Pada tahun 1760 kapten kaum Tionghoa bersidang bersama letnan-letnannya guna memperoleh pekuburan baru. Mereka meminta semua warga memberi sumbangan untuk mendapatkan ‘taman gubernur’ di Golong Sari (Gunung Sahari), dimana terdapat kelenteng dengan banyak patung dari batu, yang dahulu dibuat oleh orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa bergembira, bahwa mereka dapat membeli tanah ini …
Pada tahun 1888 rumah ini menjadi milik resmi Gong guan atau?“Dewan orang-orang Tionghoa”. Dua segi khas kelenteng ini perlu diperhatikan. Kelenteng ini semula dibangun sebagai rumah peristirahatan Belanda, dan kini Dewa-Dewa disembah didalamnya.
Karena rumah peristirahatan Belanda ini menjadi kelenteng pada akhir abad ke-18, maka tiada lagi barang-barang antik, selain patung-patung tersebut yang mungkin berasal dari abad ke-8 atau ke-10.
Oleh: Robby Sidharta – April 2001
Popularity: 41% [?]

Kelenteng Jin De Yuan – Petak Sembilan, Jakarta
Di antara lebih dari seratus kelenteng yang ada di Jakarta, terdapat beberapa kelenteng tua yang terkenal. Salah satu di antaranya adalah Kelenteng Jin De Yuan [Kim Tek Ie] yang berada di kawasan Pecinan Lama – Glodok, Jakarta Barat.
Popularity: 53% [?]
Hian Thian Siang Tee / Xuan Tian Shang Di?(


)

Hian Thian Siang Tee – Welahan (Setyono Budhy Santoso – Maret 2001)
Oleh: Setyono Budhy Santoso – Maret 2001
Popularity: 40% [?]
Beberapa daerah di Pulau Bangka memiliki warisan seni budaya dari para leluhurnya masing-masing. Ada beberapa benda warisan seni budaya yang bernilai sejarah tersebut sebagian ditinggalkan tidak terawat, bahkan dirusak oleh generasi yang mewarisinya. Untuk itu diperlukan sikap mental generasi penerus guna mencintai, menyayangi, menghormati dan melestarikan peninggalan bersejarah itu. Peninggalan bersejarah apapun itu bentuknya perlu mendapat perhatian agar tetap lestari, sehingga tetap bisa dinikmati dan dilihat serta diwarisi kepada generasi masa yang akan datang.
Popularity: 25% [?]